NINJA SI PENUNGGU RUMAH
Sore itu sedikit mendung, bahagianya selesai tugas mengajar langsung ingin cepat pulang ke rumah. “Assalamu’alaiku” setibanya di rumah, sangat mengejutkan hatiku, biasanya kalau pulang mengajar terdengar ucapan “wa’alaiku salam, hore…Umi pulaaang”kini tak terdengar, tiga jagoanku biasa berjajar di depan pintu menantiku kini sepi tak seorangpun yang menyambutku di rumah. Dengan berat melangkah namun pasti dan terucap salam dari lidahku yang keluh “ umi pulang” pandanganku langsung tertuju ke ruang tamu yang menjawab “wa’alaikum salam”.
Sambil bersalaman suami mengajakku duduk berbarengan dengan dua orang tamu yang sudah menunggu , diperhatikan dengan seksama dan diingat –ingat memang serasa tidak kenal dengan mereka maka kubaranikan diri bertanya identitas dan keperluan mereka apa?
Ternyata mereka adalah teman suamiku yang sedang kesulitan, tujuan nya untuk menggadaikan kontrakan 4 pintu sebesar 15 juta. Jantungku seakan berhenti berdetak, mataku terbelalak kaget, “uang dari mana” pikirku, suamiku tiba – tiba mencolek, tangan ku diraih dan ditarik menuju kamar kami. “Umi pakai saja uang simpanan sekolah anak –anak , nanti tiap bulannya kita dapat uang kontrakan 400.000 rupiah, itung itung ada masukkan toh nanti uang pokok nya di kembalikan “ suami merayu. Aku terdiam dan berpikir betul juga kata suami, selain menolong orang yang sedang kesusahan dapat untung pula. tapi hatiku merasa ragu “apa kita jadi tidak ihklas menolong karena mengharapkan imbalan” tanyaku kepada suami”mereka yang bilang begitu dan ihklas karena cuma sebentar hanya 3 bulan, nanti uangnya dikembalikan.
Akhirnya kami sepakat dengan jaminan sertifikat kontrakan, tiga bulan berlalu kerjasama kami baik namun tidak di bulan ke empat. Tak ada kabar dan transferan pikiran buruk mulai menghantui” waduh 15 juta hilang “. Akhir bulan ke empat suami ku datang ke rumah Pak Tono pihak pertama yang menggadaikan kontrakan, tapi ternyata mereka pindah rumah. Perjuangan suami yang merasa bertanggung jawab mengenalkan temannya kepada ku tidak sampai di sini. Dia kejar ke Cikampek karena menurut tetangga Pak Tono beliau pindah ke sana, Alhamdulillah ketemu dan berjanji akan datang ke rumah.
Minggu 3 Januari 2016 Pak Tono datang dengan motor Ninja yang berwarna hijau.Beliau hendak menitipkan motor nya sebagai jaminan pengganti sertifikat yang mau diambil untuk di jual, karena kalau aku yang beli tidak cocok tempatnya jauh dari rumah dan berada di lingkungan yang kurang baik yakni dekat Tenda Biru.Daripada tidak ada masukkan aku terima kesepakatan ini.
Dua tahun berlalu Si Ninja masih setia menunggu Tuannya menjemput,kunci motor yang selalu menggantung hilang , mungkin anakku yang kecil dibuat main hilang entah kemana, bannya yang kempes terasa lelah berdiri.Seandainya Si Ninja bisa ngomong pasti dia berkata yang punya rumah tidak pernah membelaiku, tidak pernah memandikanku, jangankan membawaku jalan-jalan bergeser dari tempat Tuanku menyimapanku pun tidak,
Si Ninja hijau sampai saat ini masih di rumah entah sampai kapan dia di rumah. Mau dijual surat surat nya tidak lengkap lagi pula Pak Tono meminta jangan dijual, jika rumah atau kontrakannya terjual motor akan diambil. Mau dipakai jalan jalanpun baik aku dan suami tidak bisa mengendarainya.
Komentar
Posting Komentar